Anggaran Rp 580 Juta, Kebun Raya Samosir 100 Ha Akui Terkendala SDM dan Akses Jalan, Belum Punya Ahli Taksonomi
SAMOSIR, UPTD Kebun Raya Samosir dan Arboretum Aek Natonang buka-bukaan soal kondisi terkini kebun raya seluas 100 Hektare di Simanindo. Hal itu disampaikan Pj. Kades Tomok Parsaoran Eva Erika Hutagalung saat dikonfirmasi media OL Generasi News, Kamis (09/10/2026).
Dari 6 poin pertanyaan yang diajukan, terungkap anggaran, SDM dan target kebun raya masih jauh dari bertaraf internasional.
1. Anggaran 2026 Hanya Rp 580 Juta
Pj Kades Eva menyebut total anggaran TA 2026 yang ditampung untuk Kebun Raya Samosir sebesar Rp 580.000.000.
Rinciannya:
– Gaji P3K Paruh Waktu (7 orang) dan 2 orang outsourcing: Rp 225.000.000
– Program rehabilitasi kerusakan lingkungan (pembuatan bibit): Rp 280.000.000
– Pengelolaan kebun raya: Rp 20.000.000
– Sisanya untuk operasional rutin.
Dengan luas 100 Ha, anggaran pengelolaan inti hanya Rp 20 Juta, atau Rp 200 ribu per hektare per tahun. Pihak UPT mengaku saat ini sedang fokus membuat bibit untuk merehabilitasi hutan.
2. Belum Punya Ahli Botani
Jumlah pegawai UPTD tercatat 9 orang:
– PNS 3 orang
– P3K Penuh Waktu 1 orang
– P3K Paruh Waktu 3 orang
– Outsourcing 2 orang
“Belum ada ahli taksonomi tumbuhan,” tegas Eva.
Artinya kebun raya yang seharusnya jadi pusat konservasi dan riset belum memiliki tenaga ahli botani, hanya staf umum Dinas LH.
3. Kendala SDM dan Akses Jalan
Saat ditanya kendala terbesar, Eva menjawab: SDM dan akses jalan ke lokasi.
Hal ini sejalan dengan anggaran minim dan tidak adanya ahli. Akses jalan menuju Kebun Raya di Simanindo memang diketahui masih belum mulus, menyulitkan pengunjung dan distribusi bibit.
4. Listrik Sudah Masuk
Kabar baiknya, jaringan listrik sudah masuk ke kawasan Kebun Raya Samosir. Ini sejalan dengan program Lisdes yang didorong Pemkab Samosir.
5. Belum Ada MoU untuk Bawang Putih
Padahal Samosir baru dapat alokasi bawang putih terbesar se-Sumut 265 Ha dari APBN 2026, namun UPT Kebun Raya mengaku belum ada rencana MoU dengan Dinas Pertanian untuk menjadikan kebun raya sebagai kebun bibit bawang putih dan tanaman endemik Samosir.
6. Belum Berani Target Internasional
Untuk target 2027-2029 apakah akan dibawa menjadi kebun raya bertaraf internasional seperti Bogor dan Bali, pihak UPT mengaku belum berani.
“Masih belum berani pak, karena masih banyak yang harus dipenuhi,” jawab Eva.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah Pemkab Samosir. Dengan anggaran pengelolaan hanya Rp 20 Juta dan tanpa ahli botani, mimpi menjadikan Kebun Raya Samosir sebagai pusat konservasi, edukasi dan wisata kelas dunia masih jauh.
(Timbul Samosir)

